Kisah Lesbian

0
3402

Sebagai wanita yang sudah berumur (37 tahun) namun masih belum menemukan jodoh, Anita, seorang pejabat midlevel di sebuah instansi pemerintah ini sudah melalui masa galaunya. Galau dimana soal percintaan sudah tak jadi masalah. Toh tidak ada tekanan dari orang tua (yang memang sudah meninggal) dimana permintaan cucu sudah diwakilkan oleh kakak-kakaknya terdahulu. Beberapa kali kegagalan percintaan membuat Anita muak dengan mahluk yang namanya lelaki, namun tidak dipungkiri Anita sama sekali tidak alergi dengan yang namanya kontol cowo. Menginjak umurnya kini, Anita berkonsentrasi dengan karirnya sambil seminggu dua kali menggaet lelaki muda demi memuaskan nafsu birahinya tanpa ikatan. Anita berpostur montok dengan hasil tes medis mengindikasikan dia sudah masuk kategori obesitas level I, dimana paling parah adalah level II. Meskipun begitu (untuk mengimbangi nafsu seksnya) Anita selalu rajin olahraga seperti yoga, fitness, body combat dan lain-lain. Berat badannya sudah memasuki angka 78kg sedangkan tingginya hanya 169cm. Perutnya sudah menimbun lemak yang cukup namun tidak membuncit. Dadanya yang yang juga menimbun lemak, membesar hingga berlingkar dan berukuran 38C, menjadi sasaran empuk korban2 brondong Anita. Namun, sehebat-hebatnya seks seorang pria, ujung-ujungnya wanita tetap memakai perasaannya waktu ngentot.

Anita tinggal sendiri di komplek rumah dinas yang diberikan atas jabatannya. Otomatis semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri. Jarak dari rumahnya ke kantor hanya belasan km, namun situasi Jakarta membuat Anita harus berangkat pagi menghindari kemacetan dan baru sampai di rumah lagi pukul 18.30. Belum sampai kantor, kepala Anita sudah terkuras menahan emosi di kemacetan dan saat tiba dirumah, Anita langsung tepar di kamar. Anita seorang butuh pembantu rumah tangga. Dengan segala pertimbangannya, Anita lebih memilih mengambil asisten rumah tangga langsung dari kampung ketimbang ambil dari biro jasa penyalur pembantu. Hal ini karena Anita sering mendengar keluh kesah teman-teman kantornya tentang kelakuan pembantu jaman sekarang yang ambil dari biro jasa. Gaji besar kerja malas.

Sabtu siang, pembantu baru Anita tiba. Namanya Nini. Nini adalah janda beranak 1, namun usianya masih cukup muda sekitar 26-27 tahunan. Anaknya sudah berumur 3.5 tahun dan ditinggal di kampung. Hari pertama adalah test drive Nini. Secara umum, kerja Nini memuaskan untuk Anita.

Seperti yang sudah disebutkan, Anita 2 minggu sekali selalu membawa brondong pulang untuk memuaskan hasrat seksualnya. Namun sekarang agak berbeda karena ada Nini. Anita biasanya menyuruh Nini pergi dari rumah sebelum si brondong datang dan memberikan uang lebih agar Nini bisa pergi keluar kompleks sampai Anita menelponnya untuk balik pulang. Sebulan-dua bulan Nini nurut saja dengan permintaan Anita, tapi namanya cewek, dibulan ketiga rasa keingintahuan Nini memuncak. Segera setelah diberikan uang untuk pergi, Nini keluar kompleks dan menunggu disana. Kira-kira berselang 30 menit, ada mobil yang masuk dimana Nini tidak bisa mengenali mobil itu milik siapa. Maklum kompleks rumah dinas cuma 16 rumah, yang ditempati hanya 10 dan yang ada mobilnya hanya 8 dan Nini hapal semua mobilnya. Nini bersabar menunggu dan setelah 30 menit lagi, Nini kemudian masuk kompleks. Namun Nini tidak masuk dari pintu depan, melainkan masuk dari pintu samping dimana Nini sebelumnya sengaja tidak mengunci dan menggerendel biar gampang masuk. Nini mengendap2 masuk dari belakang. Suasana dalam rumah gelap sekali dengan hanya lampu meja yang remang menyala. Nini kemudian melangkah ke arah kamar Anita. Terdengar ada suara2 laki-laki dan perempuan dan gedabrukan. Tidak lama kemudian Nini mendengar lenguhan panjang Anita dari dalam, kemudian sepi. hanya ada obrolan2 kecil. Tak lama lampu di dalam kamar Anita menyala dan terpancar dari sela pintu dibawah. Nini pun panik dan lari menjauh. Mencari tempat sembunyi, Nini kemudian merangkak dibawah meja makan agak jauh dari kamar Anita. Dua pasang kaki keluar berurutan dimulai diuruti Anita terlihat dari kutex merah yang terpoles di jari kaki diikuti sepasang kaki dengan bulu kaki lumayan banyak. Nini bisa mendengar lenguhan Anita yang dibayangkan (karena kehalang meja dan taplak tempatnya bersembunyi) Anita sedang dicumbui dari belakang. Nini membayangkan mungkin cowo tersebut sedang menggerayangi Anita dari belakang. Seketika tubuh Anita berputar dan sedikit menjinjit, suara lenguhan-lenguhan kembali muncul. Kaki Anita terlihat seperti tidak dapat mengimbangi serangan-serangan sang pria. Anita pun terhimpit ke tepi kusen pintu. Tak lama kemudian, kedua kaki Anita terangkat menggantung dan hanya menyisakan kaki sang pria. Nini membayangkan tubuh Anita sedang diangkat Kedua kaki Anita bergoyang-goyang maju mundur seirama dengan rintihan Anita. “Sakitt…” bisik Anita, terdengar jelas oleh Nini dari bawah meja. “Apanya…?” terdengar suara cowo. “Punggungku…” Anita membalas. “Oh kukira…” “Itunya sih enak…” Nini kemudian mendengar sang cowo mengambil nafas dan menggendong Anita bergeser ke meja kerja sebelah pintu kamar Anita. Kini kaki Anita terangkat tinggi dan tidak lagi terlihat. “Cepet aja ya.. nanti si Nini kelamaan diluar…” “Ah tante mah..” hah?? Tante??? pikir Nini. Apa maksudnya? Genjotan sang cowo semakin menjadi terlihat dari dengkul kaki yang meregang dan menegang naik turun ditambah derit kaki meja yang sejajar dengan genjotan sang cowo “Aaahhh… ahhh ah ahah ahhhh…..” Lenguhan Anita dibarengi helaan nafas panjang lega sang cowo. tak lama kemudian kaki Anita muncul lagi ditepi meja kerja. “Ambil tisu, netes nih…” Sang cowo kemudian berjalan menuju meja makan mengambil tisu. Kemudian mengelap lelehan cairan di meja. Nini sedari tadi perasaannya campur aduk, antara takut ketahuan, penasaran siapa sang cowo dan disaat yang bersamaan juga merasakan vaginanya basah. Sepertinya dia sendiri horny melihat film pendek barusan. Persembunyian Nini masih tertutup erat ditambah lampu ruang tengah yang masih temaram dari satu lampu meja telepon saja, disamping lampu dari kamar Anita. Ganti baju sana…” “Oke tan, thanks ya for today” Nini tidak mendengar Anita menjawab sang cowo. Anita kemudian turun dari meja kerja dan masuk ke kamar, setelahnya keluar dengan menggunakan kimono tidur. Entah gimana, Nini tidak memperhatikan sang cowo yang sudah menggunakan celana jeans. Mereka berdua pun jalan ke arah ruang tamu. Tak lama suara mesin mobil menyala dan terdengar menderu menjauhi rumah Anita. Anita yang masih di pintu ruang tamu bersandar di pinggir pintu. Tiba-tiba. TINUUUTNINUUUTTT…. nada dering polyphonic dari HP Nini berbunyi dari saku celana. Anita kebingungan dan segera lari ke dalam untuk mencari sumber suara. Nini yang panik karena HPnya berbunyi terperanjat dan kepalanya terjedut bawah meja. HP Nini pun mencelat dari saku celana dan terlempar keluar dari kolong meja dan berhenti tepat di depan kaki Anita. “Nini…?” Panggil Anita. “Nini… kamu dibawah situ?” Nini kemudian merangkak keluar tertunduk malu. “Kenapa kamu bisa dibawah situ, bukannya saya suruh kamu keluar dulu kayak biasanya?” “Iya bu, maaf, mmmmm saya…” “Saya apa?” Nada suara Anita bukan nada marah seperti interogasi tapi lebih masih di suasana kaget. “Iya bu, maaf, sebenarnya tadi sudah keluar, tapi HP Nini ketinggalan” Nini bohong. “Makanya saya balik lagi bu mau ambil HP, tapi ada orang di depan. Saya sungkan masuk ke dalam lewat pintu samping, di dalam gelap sekali dan saya dengar ada suara Ibu dan seorang laki2, saya takut jadinya saya ngumpet di bawah kolong” “Ooooooh…” Anita berujar. ANita pun kebingungan. “Yasudah gakpapa, tapi saya minta kamu gak usah omongin apa-apa soal ini ke orang-orang ya, gak ke tetangga ke pembantu tetangga, ke satpam juga. Nanti saya tambahin duit kamu. Paham?” “Paham Bu”.

Minggu demi minggu berlalu, Anita dan Nini semacam meraih kesepakatan bersama agar Anita menambahkan uang jajan setiap kali Nini ditugaskan untuk keluar kompleks dan Nini dengan kesadaran diri membungkam mulutnya untuk tidak bertanya soal apa yang terjadi malam itu. Ataupun malam-malam berikutnya.

Satu minggu sore Nini dan Anita sedang berada di dapur. Nini sedang mencuci piring sisa makan siang Anita sedangkan Anita sedang bersiap-siap untuk membuat jus di meja. “Kamu udah menjanda berapa tahun Ni” buka Anita. “Mmmm…. 4 tahun Bu”, “Kamu gak haus apa? haus itutuh?” “Haus apa bu?” “Ah kamu belagak lugu, umur2 kamu ini pasti lagi membludak-bludaknya” “Mmmmm… Iya sih Bu” “Kamu gak minta jatah dari suami kamu atau gimana?” Nini mulai risih dengan pertanyaan-pertanyaan Anita, namun mengingat yang bertanya adalah majikan dia wajib menjawab “Ya gimana Bu, saya sudah muak sama yang namanya laki, mereka egois. Kalo soal ini *nunjuk memek” gampang lah bu, pake botol juga jadi” “Yaaa… tapi kan rasanya beda Ni” “Nggak ah bu, sama aja. Saya mending sama botol bu daripada sam kontol” Nini mulai mencair. Nini bertanya “Mmmm.. maaf kalau saya lancang, tapi pacar Ibu itu…” “Pacar…? pffttt… mereka bukan pacar saya Ni, mereka cuma anak kecil yang saya manfaatin aja, gak perlu saya pacar. Samalah kayak kamu, kontol masih perlu, tapi untuk muasin diri saya gak perlu2 amat sih. Saya cuma butuh mereka kalau rangsangan dari tanganku gak bisa menuhin nafsu.” Obrolan semakin memanas dan keduanya pun justru saling berbagi mengenai bagaimana mereka memuaskan diri tanpa bantuan kontol lelaki. Nini dan Anita saling membelakangi, namun Nini tidak menyadari Anita sudah berhenti menyiapkan bahan-bahan untuk jus dan berbalik ke arah Nini. Nini ini bodynya lumayan bangkok. 11-12 dengan body Anita namun dimensinya lebih kecil 20% (halaaaaah). Bodynya toge pasar montok juicy dengan dada jumbo 36B meskipun terbalut kaos oblong bekas milik Anita dan rok selutut. Tetap saja lekuk tubuh Nini entah kenapa membangkitkan gairah Anita. Anita kemudian memberanikan diri memeluk Nini dari belakang “Eh… kenapa ini Bu?” “Kamu bilang kamu gak butuh cowo, aku juga gak butuh cowo, kita berdua sama sama tau gimana caranya memuaskan diri masing-masing” Sambil membelai rambut Nini, Anita lanjut bicara “Aku penasaran… apa jadinya kalau kamu muasin aku dan sebaliknya” “Ah… Ibu… jangan ah…” Nini menolak tubuhnya dari meja cuci piring mundur, namun Anita tetap menghimpitnya. Nafus Anita yang sedari tadi sudah naik mendengar curhatan Nini tentang aktivitas seks tersalurkan melalui nafas berat Anita di tengkuk Nini. Nini masing mencoba untuk meronta. Anita kemudian memeluk Nini dari belakang, tangan kanannya langsung menyerang ke toket Nini yang langsung ditahan oleh tangan Kiri Nini. Sambil bertumpu di meja cucian piring (semua cucian piring sudah selesai, biar gak jorok ceritanya), Nini kembali meronta mundur kebelakang. Aksi sama dengan reaksi, Anita pun mengimbangi dengan himpitan yang menahan Nini tidak bisa kemana-mana. Tenaga Anita masih terlalu besar untuk dilawan oleh Nini. Atau Nini pun sebenarnya mau-mau tapi malu? tangan kiri Anita mulai menggerayangi paha Nini. Nini pun mulai kalut dalam nafsu. Terdengar nafas beratnya dan matanya merem melek saat Anita menciumi tengkuk dan leher Nini. Anita kemudian menggesek-gesekkan memeknya yang masih terbungkus celana hotpants ke pantat Nini yang kini roknya telah tersingkap, menyisakan celana dalam pink terlihat. Remasan toket yang dilakukan ANita semakin lama semakin menjadi. Keduanya kini saling mengimbangi gesekan-gesekan. Tak tahan Nini akhirnya membalikkan kepala untuk melihat ke arah Anita. Terlambat, Anita langsung menyerang bibir tipis Nini dengan ciumannya yang dahsyat. Nini terperanjat. Baru kali ini dia bercumbu dengan majikannya. Baru kali ini pula ia bercumbu dengan seorang wanita, dan baru kali ini pula dia merasakan getaran birahi sedemikian hebatnya hingga Nini yang awalnya menyerah menerima ciuman Anita, kini membalas lumata dengan garang. Anita tak kuasa, ia menciumi Nini dengan sepenuh tenaga, sisa tenaga yang tak tersalurkan melalui gesekan-gesekan memek dan ramasan toket ataupun cumbuan mautnya ia salurkan dengan menjambak-jambaki rambut Nini. Dengan penuh perasaan tentunya. Anita kemudian memutar balikkan Nini, kaki mereka diposisikan sedemikian rupa saling bersilangan hingga kedua wanita montok ini menggesek-gesekkan memeknya satu ke yang lainnya sambil masih bercumbuan. Anita sesekali memeriksa celana dalam Nini. Basah. Woooowww… Ini sinyal bagus karena lawan mainnya ternyata menerima respons.

Pergulatan mereka berdua sepertinya tidak bisa diselesaikan di ruang dapur. Anita kemudian, yang bertenaga lebih besar ketimbang Nini tentu saja, dengan kedua tangannya meremas bokong padat Nini dan mengangkat Nini ke gendongannya. Nini pun bereaksi dengan bertolak dan melompat ke pangkuan Anita dan melingkarkan kedua kakinya ke perut Anita. Anita memeluk erat Nini dan mulai menggerayangi toket Nini dengan mulutnya. Anita pun bergerak ke arah kamar. AC kamar sudah menyala siap menyambut kedatangan dua pegulat kelas menengah untuk bertarung syahwat di kasur yang sudah tertata rapi. Anita melempar Nini ke kasur. “Buka baju kamu” Nini tidak perlu diperintah dua kali untuk segera melucuti pakaiannya. Anita pun demikian. Dalam posisi telanjang bulat, Nini telentang bertopang siku kanan sedangkan tangan kirinya memain-mainkan memeknya untuk mempertahankan birahi yang sedang tinggi-tingginya ini. Anita yang melihat pemandangan itu pun tak kuasa. Diterjangnya Nini dan dalam sepersekian detik keduanya sudah berpelukan dengan posisi kaki bersilangan dan saling menggesekkan memek pada paha lawan tarungnya. Ciuman demi ciuman dilancarkan kedua wanita ini. Tubuh keduanya menggeliat tak karuan ditunjang dengan keringat yang bercucuran mengalahkan dinginnya AC LG 1/4PK di kamar Anita. Sambli bergesek-gesekkan (Istilah luar negerinya tribbing, coba aja google heheheh), mereka adu kuat dan menunjukkan dominasi masing-masing dengan bergantian untuk berada di posisi atas. Setelah bergulat selama kurang lebih 15 menit, Nini akhirnya terlihat menyerah, gesekan memeknya berubah menjadi jepitan paha dan tidak terasa oleh ANita gerakan menggesek yang dilakukan oleh Nini. Tak lama pinggul Nini pun begetar hebat dan…. crrrrrrttttttt…. Anita merasakan basah di pahanya. Wow… ternyata Nini ini squirter, alangkah jackpotnya. “Maaf bu, saya duluan” sebelum Nini melemas, Anita tetap melancarkan serangannya dan ternyata secepat kilat Nini kembali panas. “Saya akan puasin Ibu” Anita diam saja saking nikmatnya menjilati kedua toket Nini bergantian. Posisi terakhir dimana Anita berada diatas Nini diputarbalikkan dan Nini pun merangkak kebawah dan mulai menjilati memek Anita. Anita melenguh nikmat dan menggeliat terkayang-kayang, kedua pahanya kini bertumpu pada pundak Nini. Nini menyiksa Anita dengan jilatan mautnya. “Kalah aku” pikir Anita dalam hati, ternyata Nini lebih jago dalam urusan jilmek. Rontaan Anita membuat Nini terhempas kesana kemari namun Nini bertahan dengan mengunci posisi dan memeluk erat pinggang Anita. Tak lama kemudian Anita menjambak rambut Nini dari sela pahanya sambil pitingan pahanya menjepit kepala Nini semakin keras. Nini tetap melanjutkan serangannya dan “AAAAAAAkkkkkkkkkkkkkhhhhhhhhhhhhh……..” srrrrrrrrrrn cairan panas deras menyembur dari memek Anita menyemprot muka Nini yang masih ada di selangkangan Anita. Nini yang sambil jilmekin Anita ternyata sedari tadi juga ngobel memeknya sendiri. Mendengar Anita mencapai kepuasan, Nini pun terangsang dan meraih klimaksnya yang kedua. Jeritan Anita pun di sahut dengan jeritan nikmat Nini.

Anita mengambil nafas perlahan-lahan terengah-engah untuk mengembalikan kesadaran. Selama ini dia selalu dibuat squirt oleh brondong-brondong, namun gak pernah yang nikmatnya seperti ini. Tubuh Anita melemas, jepitan paha Anita pada kepala Nini kini sudah terbuka. Kedua wanita itu terkulai lemas di atas kasur berukuran 200. “Mulai sekarang aku gak akan pakai brondong-brondong itu. Aku akan pakai kamu saja Ni.” “Iya bu, asal saling memuaskan saya mau.”

Mulai saat itu pun Nini dan Anita selain menjadi pasangan dan majikan pada hari biasa, namun pada malam hari mereka berdua saling memuaskan. Anita kini lebih menikmati bercinta dengan wanita khususnya dengan Nini. Karena Nini tahu benar bagaimana memuaskan seorang wanita, wajar karena dia sendiri adalah seorang wanita yang sudah tau celah-celah untuk memaksimalkan kepuasan. Anita semakin sayang dengan Nini. Nini pun kini sudah berubah lebih modis dan tidak terlihat seperti pembantu. Kulitnya yang tadinya sawomatang pun mulai memutih. Rambutnya yang tadi acak-acakan gak karuan pun sekarang sudah lurus dan dipotong pendek sebahu. Perawatan kewanitaan semuanya Anita tanggung dan dibayar mahal dengan kesetiaan menjadi pembantu rumah tangga sekaligus budak seks Anita. Anita tak jarang mengajak Nini saat kantornya menyuruh Anita untuk perjalanan dinas keluar kota. Sudah tidak terhitung berapa kota yang telah mereka tandai dengan percintaan kamar hotel mereka. Satu-satunya yang belum Anita lakukan adalah mengajak Nini keluar negeri.

Anita menjadi ujung yang lebih dominan dari hubungan sesama jenis ini, maklum status sosial masih terbawa-bawa dan Nini pun sebagai pembantu menerima saja takdirnya. Anita terkadang kasar memperlakukan Nini dalam adegan percintaan, namun tetap saja lemah lembut di situasi biasa. Nini pun terima diperlakukan demikian. Ia lebih ke tipe yang menerima dominasi. Anita seringkali memutarbalikkan tubuh Nini saat bercinta hingga dalam posisi yang luar biasa sulit untuk dituliskan dengan kata-kata untuk mencapai klimaks kemaksiatan. Anita seringkali menyodorkan film-film JAV lesbian sebagai referensi Nini untuk posisi bercinta. Anita yang semakin hypersex dan freak ini sejak berhubungan dengan Nini mempunyai koleksi berbagai macam sex toys. Dildo, latex, pakaian seksi dan strapon adalah beberapa dari sekian banyak peralatan yang dibeli oleh Anita secara online. Disuatu malam percintaan yang rutin keduanya dalam sesi setengah foreplay dimana Nini menggunakan sport bra tanpa celana dalam dan Anita memakai lingerie tembus pandangnya. Anita sedang giat-giatnya menggesek-gesekkan memeknya ke memek Nini dalam posisi mirip missionary sedangkan Nini bertahan dibawah menahan berat badan akibat tindihan Anita yang memang tidak sebegitu langsing. Dalam posisi bergumul dan berpelukan Anita kemudian berguling hingga ia bisa merogoh laci dibawah tempat tidurnya. Ia kemudian mengeluarkan dildo pink. Anita melepaskan pelukan dari Nini dan memutar balikkan Nini dalam posisi merangkak. Anita kemudian segera menghunuskan dildo dan memaju mundurkan dengan perlahan, kemudian kencang lalu perlahan lagi tergantung respons Nini. Nini tak kuasa menahan sodokan dildo memeluk erat dan meremas guling di tempat tidur. Anita yang juga bergairah melihat respon Nini mengobel memeknya sendiri dengan dildo satu lagi berwarna biru. Anita menjadi mesin seks yang menyodok dua memek sekaligus. Tak lama kemudian Anita pun klimaks. Namun Nini belum. Anita kemudian meninggalkan dildo pink tertinggal di dalam memek Nini. Kemudian ia turun ke lantai dan kembali mengacak-acak laci sex toysnya. “Naaah ini dia…” Anita kemudian membuka lingerienya dan memasang apa yang terlihat seperti celana dalam berwarna hitam. Kemudian Anita merangkak naik lagi. “Kamu belum puas kan? Aku bakalan bikin kamu nyerah senyerah-nyerahnya dan tepar” “Apa itu bu” tanya Nini sambil menahan ngilu akibat bentuk dildo pink yang bercorak ulir di dalam memeknya. Celana dalam hitam yang dikenakan Anita ternyata adalah strapon dildo. Sebuah dildo yang terpasang di sebuah celana dan membuat Anita tampak menyerupai lelaki yang memiliki kontol. Di dalam. Di balik celana pun terdapat dildo yang langsung masuk ke memek Anita. Jadinya nanti kalau Anita sedang menyodok-nyodok Nini, dildo di dalam juga akan menyodok-nyodok memek Anita. Win-win solution. Anita kemudian berlutut dibelakang pantat Nini kemudian dengan cepat mencabut dildo pink “Kyaaaaakhhh…” Nini teriak, teriakan Nini berikutnya bersamaan dengan hunusan strapon dildo yang dipakai Anita. “AAaahhh Ibu….” “ssssttt….” Anita mulai menggenjot memek Nini dengan dildonya dalam posisi doggy style, Anita dan Nini pun kembali kalut dalam rangsangan seks bagaikan disetubuhi oleh seorang pria, hal yang sudah lama sekali tidak dilakukan oleh keduanya. “Sayaaaangggg… sayaaaangggg…” “Hhaaaaahhh….aaaahhh aaahhhh….” keduanya bersahutan. Nini pun ambruk ke samping tidak tahan dengan sodokan Anita. Kini keduanya dalam posisi gunting dengan kaki Nini menjulang tinggi ke bahu Anita. Kedua toket masing-masing wanita bergoyang-goyang dan bergelayutan seirama dengan ritme sodokan. Nini kemudian meraih, memeluk Anita dan Anita pun menurunkan kaki Nini kemudian keduanya berpelukan erat sambil berciuman. Sodokan demi sodokan tetap dilancarkan oleh Anita. Nini kemudian melingkarkan kedua kakinya dan sesekali juga menarik pantat Anita seolah-olah memerintah Anita untuk menyodok lebih keras lagi. Cumbuan terlepas saat Anita beralih mencumbui leher Nini. Nini melenguh sampai tubuhnya membusung. Anita memeluk semakin erat tubuh Nini. Kemudian Nini bangkit dan memutarbalikkan keadaan dan kini Nini pun ada di posisi atas. Nini kemudian menggenjot dirinya dengan hujaman dildo ke memeknya. Otomatis hujaman tersbut juga membuat dildo dalam menghujami memek Anita. Keduanya semakin panas. Entah sudah berapa kali keduanya squirt tidak terhitung. Sprei yang sudah berantakan sudah bersimbah becekan dari beberapa kali squirt dari keduanya. Anita kemudian mengambil alih dan saat menghujam pertama kali di posisi atas Nini meraih klimaksnya. Lenguhan panjang dan helaan lega nafas Nini memeberi sinyal kepada Anita untuk menyudahi pertarungan malam itu. Toh masih ada malam-malam berikutnya. Akhirnya Anita pun menyudahinya dengan mencapai orgasme hebat setelahnya. Sodokan-sodokan Anita pun mengendur. Anita menjatuhkan dirinya ke Nini dan mencumbui Nini. Nini menyambut cumbuan Anita sambil membelai rambut Anita yang panjang dan hitam itu. Anita kemudian ambruk kesamping Nini dan melepaskan celana dildonya. Basah tak karuan, celana itu dibuangnya sementara ke lantai dibawah. Keduanya kemudian berpelukan dan karena sudah lelah mereka berdua pun terlelap tidur…. telanjang… kulit menempel dengan kulit… toket ambyar tumpah menindihi satu sama lain… kaki saling melingkar dan memek saling menempel ke paha lawan…. sesekali digesek untuk memeras sisa-sisa kenikmatan orgasme….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here